Jumat, 10 November 2017

Green Chemistry, Caraku untuk Mensukseskan Program Langit Biru




Pertamina mencanangkan program langit biru sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Nama program langit biru berasal dari proyek besar dan strategis yang diberi nama Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) yang tujuannya adalah meningkatkan kualitas BBM dari premium (RON 88) menjadi pertamax (RON 90). RON adalah kepanjangan dari Research Octane Number atau angka oktan. Angka oktan inilah yang menentukan kualitas BBM. Semakin tinggi angka oktan, semakin bagus kualitas bensin, maka semakin ramah terhadap lingkungan. Jadi tujuan dari program langit biru adalah membuat bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan sehingga kualitas udara lebih terjaga, lebih sehat, dan langitpun tetap biru. Berikut merupakan perbandingan premium (RON 88) dengan pertamax (RON 90).
Perbandingan
Premium (RON 88)
Pertamax (RON 90)
Knocking/ketukan
Dapat menyebabkan knocking dalam mesin kompresi tinggi sehingga terjadi pemborosan
Mampu menerima tekanan pada mesin kompresi tinggi sehingga hasil lebih maksimal
Gas buang
Mengahasilkan gas NOx dan COx dalam jumlah besar yang menyebabkan pencemaran lingkungan
Mengahasilkan gas NOx dan COx dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan premium

Proyek PLBC Pertamina ini telah memasuki fase konstruksi ke-17 dari keseluruhan jangka waktu yang sudah direncanakan. Pekerjaan yang dilakukan pada fase ini antara lain mengecek kondisi tanah dari bahan-bahan yang sudah tertanam sebelumnya serta penebangan pohon di sekitar area pembangunan. Namun pertamina memiliki komitmen yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan, sehingga pohon yang ditebang tersebut di data jumlahnya dengan tujuan untuk dilakukan penanaman pohon kembali sesuai dengan jumlah pohon yang ditebang. Batang pohon yang telah ditebang disumbangkan ke komunitas ataupun masyarakat yang tinggal di sekitar kilang. Jadi proyek langit biru ini adalah proyek yang patut kita acungi jempol dan tentunya harus kita dukung pelaksanaannya.
Lalu bagaimanakah cara saya untuk ikut mensukseskan program langit biru?
Sebagai seorang guru terlebih guru kimia, saya sadar, di tangan para pendidiklah generasi-generasi langit biru dilahirkan. Generasi-generasi masa depan yang cerah, optimis, dan penuh dengan harapan-harapan baru. Saya pun tidak tinggal diam, dengan langkah kecil namun konsisten saya berharap generasi langit biru yang berkualitas akan hadir. Salah satunya adalah membiasakan sikap cinta lingkungan. Saya pun menerapkan gerakan cinta lingkungan tersebut dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Salah satunya adalah menerapkan konsep green chemistry sebagai salah satu metode praktikum, sehingga penggunaan bahan-bahan kimia yang berpotensi menimbulkan pencemaran bisa diminimalisir dan lebih ramah lingkungan.
generasi langit biru
Praktikum kimia identik dengan penggunaan bahan-bahan yang sifatnya berbahaya, contohnya NaOH atau yang dikenal dengan nama soda api. NaOH merupakan bahan kimia dengan label berbahaya. Bahan kimia dengan label silang (berbahaya) adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi, luka bakar pada kulit, berlendir, mengganggu sistem pernafasan apabila kontak dengan kulit, dihirup, atau ditelan.
Selain NaOH, Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kimia SMA antara lain, H2SO4, HCl, H2O2, FeCl3 dan bahan-bahan lainnya. Bahan tersebut berpotensi menimbulkan limbah bila tidak dikelola dengan benar. Meskipun limbah sisa praktikum tidak banyak namun bila diakumulasikan bisa menumpuk dan bisa membahayakan lingkungan. Semakin sering praktikum, maka semakin banyak limbah yang dihasilkan. Pada kenyataannya tidak semua laboratorium sekolah dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Sehingga Green chemistry adalah solusi untuk mengurangi dan mencegah pencemaran pada sumbernya.
Adapun manfaat praktikum kimia hijau atau Green chemistry antara lain:
- Tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, sehingga lebih aman.
- Resiko bahaya praktikum lebih sedikit
- Lebih hemat, karena menggunakan bahan-bahan yang berasal dari kehidupan sehari-hari
- Ramah lingkungan (hasil samping / dampak praktikum tidak mencemari lingkungan)
- Tidak menimbulkan efek negatif bagi kesehatan dan lingkungan
- Bahan-bahan yang digunakan mudah diperoleh
Green chemistry atau kimia hijau dapat dijadikan alternatif untuk praktikum yang ramah lingkungan, aman, serta ekonomis. Green chemistry menggunakan alat dan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari untuk menggantikan alat dan bahan kimia yang ada di laboratorium. Salah satu materi yang dapat dipraktikumkan dengan konsep Green chemistry adalah identifikasi asam basa. Identifikasi asam basa bisa menggunakan beberapa indikator seperti kertas lakmus, indikator universal, fenolftalein, metil jingga, metil merah, dan bromtimol biru. Namun indikator tersebut bisa digantikan dengan indikator alami yang berasal dari tumbuhan. Bagian tumbuhan yang digunakan antara lain mahkota bunga, daun, dan akar. Tumbuhan yang digunakan pun bermacam-macam antara lain, kunyit, bunga soka, bunga teleng, bunga bougenvil, bunga sepatu, dan kol merah. Asam dan basa yang diujikan pun tidak harus menggunakan asam dan basa yang ada di laboratorium seperti HCl, H2SO4, NaOH. Asam dan basa alami seperti cuka (CH3COOH), asam jeruk, air kapur (Ca(OH)2), dan soda kue (NaHCO3) bisa digunakan sebagai alternatif.
praktikum green chemistry
Dengan adanya praktikum kimia hijau atau Green chemistry diharapkan dapat mewujudkan praktikum yang ramah lingkungan, serta dapat menanamkan sikap cinta lingkungan kepada peserta didik yang merupakan generasi langit biru. Demikianlah cara saya mensukseskan program langit biru Pertamina. Semoga bermanfaat.
#Pertamina
#PertaminaChallenge
#GenLangitBiru
#BlogdanVlogCompettion
#LangitBiru

This entry was posted in

Kamis, 09 November 2017

Membumikan Budaya Literasi Digital Sebagai Benteng untuk Memerangi Hoax

hoax aspartame
Pesan di atas merupakan contoh dari broadcast massages yang beberapa waktu lalu sangat populer. Bahkan dari grup-grup Whatsapp dan BBM yang saya ikuti menyebarkan pesan tersebut yang kebenarannya tentu masih dipertanyakan.

Tak bisa dipungkiri penggunaan smartphone telah menjadi tren di kalangan masyarakat. Menurut data situs antara news, 52% penduduk Indonesia telah melek internet, lebih dari 60 juta orang telah memiliki smartphone bahkan berada di urutan kelima di dunia. Namun fenomena tersebut tak lantas menjadikan penggunanya menjadi smart. Hal tersebut dibuktikan dengan begitu cepatnya penyebaran pesan berantai tanpa mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Apalagi hampir semua smartphone telah didukung dengan sosial media seperti facebook, twitter, whatsapp. Bahkan beberapa sosial media telah dilengkapi dengan fitur canggihnya seperti broadcast massages, hanya tinggal click enter langsung tersebar ke puluhan bahkan ratusan pengguna lainnya.  Dari pengamatan yang saya lakukan, ada beberapa pengguna yang bahkan tanpa membaca terlebih dahulu langsung membroadcast pesan-pesan tersebut. Begitu mudahnya pesan disebar.

Fasilitas broadcast massages bagaikan dua sisi mata uang, disamping menguntungkan karena pesan bisa langsung tersebar dan diterima oleh banyak pengguna, namun juga merugikan manakala pesan yang tersebar justru adalah pesan bohong alias hoax. Berikut ulasan penulis mengenai hoax.

A. Pengertian Hoax

Menurut Lynda Walsh dalam buku “Sins Againts Science” hoax diperkirakan muncul pertama kali pada tahun 1808 pada era industri (antaranews.com). Menurut situs Tribunjateng.com asal kata hoax diduga dari kata ‘hocus’ yang memiliki arti untuk menipu. Istilah hoax sendiri mulai naik daun di kalangan pengguna internet setelah film The Hoax beredar pada tahun 2007 yang berkisah tentang skandal pembohongan atau penipuan yang terjadi di Amerika Serikat yang diangkat dari kisah nyata.

Hoax dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai berita bohong. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online berita memiliki arti 1. cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; 2.laporan.3.pemberitahuan; pengumuman. Sedangkan bohong memiliki arti 1. tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya;dusta, 2. Bukan yang sebenarnya;palsu. Menurut Wikipedia Indonesia pemberitaan palsu (Bahasa Ingris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat-buat seolah benar adanya.

B. Cara Mengidentifikasi Hoax

Berikut merupakan cara mengidentifikasi hoax berdasarkan ciri-ciri hoax:

1. Judul bisanya menggunakan huruf kapital, huruf tebal, banyak tanda seru, serta bersifat provokatif.

Anda patut curiga bila menerima pesan yang judulnya menggunakan huruf kapital, ditebalkan serta menggunakan tanda seru secara berlebihan. Sebab judul yang demikian seolah memberi penekanan dan penguatan seolah berita itu benar adanya. Selain itu judul hoax biasanya bersifat provokatif, karena tujuan hoax sendiri adalah untuk mempengaruhi dan memprovokasi pembacanya.
contoh hoax

2. Tidak mencantumkan sumber, kalaupun mencantumkan sumber tidak terpercaya/palsu. 

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Namun dari jumlah tersebut yang terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai (www.kominfo.go.id). Jadi ketika menerima berita pastikan berita yang anda terima berasal dari situs resmi. Jika bukan berasal dari situs resmi, maka anda perlu waspada dan mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Berikut merupakan contoh berita hoax yang mencantumkan situs yang alamatnya menyerupai alamat situs terkenal. Namun setelah di cek ke alamat situs tersebut, langsung teralihkan ke situs lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan berita.
contoh hoax yang lain


Jadi ketika menerima pesan yang mencantumkan sumber, cobalah untuk menuju alamat situs dan cek apakah alamatnya benar atau tidak serta apakah sumber tersebut bisa dipercaya atau tidak. Salah satu caranya dengan mengecek pemilik atau admin di halaman ‘tentang kami’. Selain itu berhati-hatilah bila menerima pesan yang terdapat kalimat ‘copas dari grup sebelah’ dan sejenisnya, bisa jadi pesan tersebut adalah hoax. Bila terdapat kata tersebut berarti pesan tersebut tidak mempunyai sumber yang jelas. 

3. Menggunakan foto palsu 

Di zaman yang serba canggih ini, mengedit foto adalah pekerjaan yang bisa dikatakan mudah. Bahkan ada foto editan yang tidak bisa dibedakan dengan foto asli. Foto editan alias foto palsu tersebut digunakan untuk mendukung berita hoax yang disebarkan oleh pelaku sehingga pembaca benar-benar mempercayai hoax tersebut. Berikut merupakan contoh hoax yang menggunakan editan foto. Foto ini diambil dari facebook Afi Nihaya Faradisa yang beberapa waktu lalu booming karena statusnya yang mengandung plagiasi dan kontroversial. Pihak-pihak yang tidak menyukainya pun menyebarkan foto Afi dengan Kaesang yang merupakan putra dari Presiden Joko Widodo, serta menyebarkan hoax kedekatan Afi dengan Kaesang.
foto hoax


Bila anda ingin mengecek keaslian suatu foto ternyata sangat mudah. Buka google image dan klin icon kamera dan upload foto yang akan dicek atau bisa juga dicopy paste link/url yang akan dicek kebenarannya. 

4. Menyudutkan pihak-pihak tertentu 

Berita hoax memiliki isi yang tidak berimbang dan biasanya membahas sesuatu dari satu sisi saja. Tidak tanggung-tanggung, hoax menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan gamblang, bahkan tertera dengan jelas nama pihak yang disudutkan pada judul.

C. Cara Mencegah Penyebaran Hoax

Salah satu mencegah hoax agar tidak semakin parah penyebarannya adalah dengan cara melaporkannya. Media-media sosial seperti facebook dan twitter kini telah dilengkapi dengan fitur yang bisa mencegah penyebaran hoax. Berikut caranya: 

1. Adukan berita hoax ke Kemenkominfo melalui email ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id
2. Kunjungi laman TurnBackHoax untuk melaporkan hoax 
3. Untuk pengguna facebook gunakan fitur laporkan masalah yang ada di pengaturan. Jika banyak pihak yang melaporkan, maka facebook akan menghapus status tersebut.
fitur laporkan pada fb
4. Untuk pengguna instagram gunakan fitur laporkan masalah yang ada di pengaturan.
fitur laporkan masalah pada ig
5. Untuk google anda bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs yang mengandung hoax
laporkan feedback google

D. Dampak Negatif dari Hoax

Hoax mempunyai dampak negatif sebagai berikut:
  1. Meresahkan dan membuat bingung masyarakat 
  2. Merugikan pihak-pihak tertentu 
  3. Memecah belah persatuan 
  4. Menimbulkan opini yang buruk terhadap seseorang atau suatu produk 
  5. Menguntungkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab 
  6. Memprovokasi masayarakat ke arah opini negatif 

E. Tips Melawan Hoax

Berikut merupakan tips untuk melawan hoax:
  1. Jangan langsung menshare berita yang tersebar di media sosial seperti facebook dan whatsapp, baca terlebih dahulu berita secara keseluruhan, jangan sepotong-potong apalagi hanya membaca judulnya saja. Apalagi bila judulnya heboh dan provokatif. 
  2. Cek kebenaran berita, bila berita tersebut benar biasanya ada banyak situs yang memuat berita tersebut. Namun bila hanya satu situs saja yang membahas, anda patut waspada. 
  3. Cek kesesuaian gambar dengan isi berita. Waspadai gambar palsu yang sengaja dibuat untuk mendukung hoax 
  4. Kunjungi link yang tertera, cek apakah link sesuai dengan berita, situsnya resmi atau tidak, pemilik akun bisa dipercaya atau tidak. Aktifkan fitur pelacak hoax seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

F. Cara mengedukasi Siswa, Keluarga, dan Kolega serta pengalaman pribadi tentang hoax

Hoax dewasa ini telah merambah di segala bidang, mulai dari bidang pendidikan hingga bidang politik. Bahkan hoax semakin bertambah panas manakala mendekati event-event besar seperti pilkada. Tak bisa dipungkiri hoax yang langsung diterima mentah-mentah tanpa difilter dan dikroscek kebenarannya akan mempengaruhi dan menggiring penerimanya ke arah opini yang negatif. Sebagai seorang guru, saya pernah berhubungan dengan istilah hoax baik yang tersebar dari mulut ke mulut, maupun di internet. Berikut merupakan contoh hoax yang pernah saya temui dalam kehidupan saya sehari-hari: 

1. Hoax tentang pemilihan ketua OSIS 

Pertengahan Oktober lalu, tepatnya tanggal 13 Oktober, sekolah kami mengadakan pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Dari hasil pemilihan oleh siswa didapatkan data bahwa ketua OSIS adalah siswa dengan jurusan selain IPA. Berikut merupakan data nama ketua OSIS dari tahun 2013 hingga tahun 2017: 
  1. Dhimas jurusan Bahasa 
  2. Sulaimi jurusan Agama 
  3. Abdul Qadir Jaelani jurusan IPS 
  4. Nency Indrawati jurusan IPS 
  5. Syarif Hidayatullah jurusan IPS
Saya pun melakukan wawancara terhadap beberapa siswa yang merupakan ‘pentolan’ di jurusannya. Dari hasil wawancara, para pentolan tersebut yang merupakan siswa selain jurusan IPA sengaja bergabung dan menyatukan suara untuk memilih ketua OSIS dari selain IPA. Tentu saja bila 3 jurusan sekaligus bergabung pasti akan memenangkan pemilihan. Saya pun menanyakan mengapa mereka seperti itu. Ternyata didapatkan informasi bahwa guru pasti akan memilih ketua OSIS dari anak IPA. Informasi inipun tersebar dari tahun ke tahun. Ternyata informasi tersebut adalah hoax belaka, sebab saya merekap data suara guru untuk pemilihan ketua OSIS kemarin. Hasilnya sebagai berikut:
Donita / jurusan IPA : 8 suara
Tiddad / jurusan IPA : 8 suara
Syarif / jurusan IPS : 34 suara (hasil akhir tertera di papan)
pemilihan ketua osis man buleleng


Dari data tersebut dan hasil wawancara dengan beberapa guru menunjukkan bahwa guru bersikap profesional. Guru memilih ketua OSIS bukan berdasarkan jurusan, tapi berdasarkan kemampuan dan kinerja dari calon ketua OSIS tersebut. 

Lalu bagaimana cara saya mengedukasi siswa agar tidak termakan hoax? Saya berusaha meluruskan informasi hoax tersebut kepada siswa-siswi, terutama kepada siswa-siswi yang berpengaruh di masing-masing jurusan sehingga hoax tersebut bisa dihentikan penyebarannya. Selain itu, saya pun mengajak siswa-siswi untuk senantiasa membudayakan sikap tabayyun dalam menghadapi informasi baru yang belum jelas kebenarannya. Yang tak kalah penting adalah mengedukasi siswa tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial, mengingat bawa hampir seluruh siswa memili media sosial, serta mengajak siswa untuk bijak dalam menggunakan internet. 

2. Hoax tentang registrasi SIM Card 

Pemerintah tengah menyuruh masyarakat untuk meregistrasi SIM Card baik bagi pengguna baru kartu perdana maupun lama mulai dati 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018. Tentu himbauan ini bukan tanpa tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk melindungi konsumen. Penetapan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi. Namun belakangan beredar hoax untuk tidak melakukan registrasi.
hoax tentang registrasi sim card


Staf ahli Kominfo melalui situs resmi Kominfo memperkirakan 41% orang telah terpengaruh berita tersebut yang merupakan hoax belaka. Menurut Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), Zudan Arif Fakrullah, Kominfo dan operator bekerja sama untuk menjaga kerahasiaan data KTP dan KK. Berdasarkan hal tersebut maka tidak ada hubungan antara registrasi dengan pilpres 2019, kejahatan keuangan ATM, pembobolan uang pribadi hingga pemalsuan dan penggandaan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Zudan menambahkan bagi anak yang belum punya KTP tetap bisa melakukan registrasi menggunakan NIK yang terdapat dalam KK. 

3. Hoax tentang vaksin MR menyebabkan autis 

Virus rubella merupakan virus yang mengerikan bila menginfeksi ibu hamil, sebab bayi yang dilahirkan bisa mengalami kecacatan seperti tuli, katarak, hingga keterlambatan perkembangan. Sehingga pemerintah memberikan imunisasi MR tambahan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk memberantas dan mewujudkan Indonesia bebas rubella. Namun beredar hoax bahwa vaksin MR menyebabkan autisme. Namun berita tersebut telah dibantah oleh pemerintah. 

4. Hoax tentang aspartam 

Beberapa waktu yang lalu heboh beredar pesan tentang bahaya aspartam di grup whatsapp. Berita yang tersebar sebagai berikut:
hoax tentang aspartame
Berita di atas ternyata hoax belaka. IDI alias Ikatan Dokter Indonesia beserta BPOM telah membantah kebenaran berita tersebut. Melalui situs resminya, IDI dan BPOM mengeluarkan pernyatan sebagai berikut:
penjelasan bpom tentang aspartame


Cara mengedukasi keluarga dan kolega antara lain mengajak untuk mencari kebenaran suatu berita bersama-sama tentunya di saat-saat santai, seperti saat jam istirahat, sehingga tidak terkesan menggurui. Selain itu bisa juga berdiskusi santai mengenai suatu topik yang lagi hangat dengan mencari sumber-sumber yang terpercaya. 

G. Membumikan budaya literasi untuk memerangi hoax 

Literasi digital secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi dan informasi serta perangkat digital. Jadi literasi digital tidak hanya terbatas apakah seseorang bisa menggunakan perangkat digital, namun juga sikap memilih dan memilah serta menganalisis secara kritis arus informasi digital yang diterimanya. Mengapa literasi digital penting untuk melawan hoax? Seperti yang telah dijelaskan dalam pengantar, pengguna smartphone tidak se-smart telepon yang dimlikinya. Akibatnya hoax tumbuh bagaikan jamur di musim penghujan. Tanpa adanya literasi digital maka pengguna perangkat digital akan mudah terpengaruh hoax. Literasi digital sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran hoax. Sehingga dengan adanya litearsi digital pengguna akan lebih kritis dalam menghadapi hoax dan tidak mudah terporvokasi, tidak hanya itu pengguna pun dapat bergerak aktif untuk menciptakan konten-konten positif yang bermanfaat yang dapat menandingi konten negatif dari hoax. Maka dengan membumikan literasi digital diharapkan dapat melawan penyebaran hoax. 

H. Kesimpulan 

Hoax adalah berita bohong yang dibuat seolah-olah benar adanya dan sengaja direncanakan oleh penyebarnya dengan tujuan memprovokasi dan memberikan pemahaman yang salah sehingga bisa menggiring pembacanya ke arah opini negatif. Beberapa ciri hoax antara lain judul menggunakan huruf kapital dan provokatif, tidak mencantumkan sumber, menggunakan foto palsu serta menyudutkan pihak tertentu. Hoax memiliki dampak negatif yang mengerikan salah satunya adalah dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu cara memerangi hoax adalah melalui budaya literasi digital. Sehingga dengan adanya literasi digital penyebaran hoax bisa dicegah dan memunculkan konten-konten positif yang bisa menandingi hoax.

Rabu, 08 November 2017

Berwisata Ke Kolam Lele

Menimba Ilmu dari Wisata Kolam Lele
Sebenarnya saya sedikit nelangsa menceritakan wisata kali ini, pasalnya murid yang saya mintai tolong untuk mengambil foto hanya memfoto ikan lelenya saja, sehingga tidak ada satupun foto saya disana. Sementara tidak ada dokumentasi lain, sebab siswa siswi sekolah kami tidak diperbolehkan membawa handphone ke sekolah. Disitu saya merasa sedih. Namun tak mengapa, sebab sedihnya tidak sebanding dengan pengalaman yang kami dapat.
Cerita berawal dari saya yang berprofesi sebagai guru prakarya yang ingin mengajak siswa siswi kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 mengunjungi kolam budi daya lele. Bagi saya, mengajarkan life skill melalui pengalaman langsung di lapangan sangat penting sekali. Agar siswa bisa mendapatkan pengalaam riil tidak hanya mengandalkan ‘katanya’ buku. Maka dari itu, hari sabtu tanggal 14 Oktober 2017 saya mengajak murid saya untuk ‘berwisata’ ke kolam budi daya lele yang ada di dekat sekolah.
Memang ada ya wisata ke kolam lele?bukannya wisata identik dengan tempat wisata seperti pantai, taman, gunung, atau kebun. Ternyata ke kolam lele bisa dikatakan wisata loh. Mari kita rujuk pengertian wisata menurut Kamus besar Bahasa Indonesia. Wisata /wi:sa:ta/ v 1 bepergian bersama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya). Jadi apa yang saya dan murid lakukan termasuk kegiatan wisata, namun tak sembarang wisata loh. Pasalnya wisata kami kali ini adalah wisata yang membuat kami pintar.
Bagi saya yang awam akan masalah ‘perlelean’ mengajak murid terjun langsung ke lapangan itu penting loh, agar mereka bisa bertanya dan berdiskusi dengan ahlinya. Sebab sumber belajar itu tidak hanya terbatas pada buku. Selain itu bisa saja saya memutarkan video budi daya ikan lele sebagai media pembelajaran, namun ternyata mengajak siswa terjun langsung ke lapangan itu memiliki sensasi lain bagi siswa. Mereka akan mendapatkan pengalaman seru yang tidak akan mereka dapatkan di buku atau video. Selain itu mereka akan mendapatkan nuansa berbeda tidak hanya terkungkung di ruangan kotak alias kelas. Jadi materi pelajaran akan lebih mengena dan akan mereka ingat karena mereka mengalaminya sendiri tidak sekedar teori belaka.
Apa saja sih yang kami lakukan saat berwisata di kolam lele?
Ternyata ada banyak hal seru yang kami lakukan. Dimulai dari sekolah pukul 07.30 WITA, lalu kami berjalan kaki atau istilah bekennya ‘by sikil’ karena jaraknya hanya seitar 500 meter dari sekolah. Saya sengaja murid berjalan, selain lebih sehat juga kami bisa bertegur sapa dengan orang-orang di sekitar sekolah. Jadi bisa sekaligus menanamkan karakter baik kepada siswa. perjalanan kami tempuh hanya 10 menit. Membawa murid banyak tentunya tidak mudah, apalagi kami harus melewati jalan yang terbilang cukup ramai, yakni jalan provinsi, jalan raya Seririt Gilimanuk yang tentunya banyak kendaraan besar melintas. Saya hanya berpesan untuk berhati-hati dan tidak bergurau. Setelah sampai ke kolam kami meminta ijin kepada peternak untuk melakukan observasi dan wawancara. Selanjutnya kami pun mengelilingi kolam lele yang jumlahnya mencapai puluha. Dari situ kami tau bahwa jenis kolam itu bermacam-macam, mulai dari kolam beton, fiber, dan terpal. Masing-masing kolam diisi dengan ikan lele berbagai macam usia. Ada kolam untuk burayyak alias larva lele, kolam untuk merawat induk jantan, kolam untuk merawat induk betina, hingga kolam yang digunakan untuk mearwat lele yang akan dijual untuk konsumsi. Wah, jadi tau deh ternyata ternyata lele dari larva hingga dewasa tempatnya berbeda dan tidak boleh dijadikan satu. Peternak lele pun menjelaskan secara detail tentang budi daya lele, murid-murid pun aktif bertanya. Setelah itu kami pun belajar memberi makan lele. Ternyata selain budi daya lele, di  kawasan tersebut juga terdapat budi daya ikan nila dan ikan kakap. Sehingga kami tidak bosan. Kami sangat menikmati wisata kali ini.



Berkunjung ke kolam lele tidak hanya membuat siswa semakin pintar, namun juga memberikan inspirasi bagi mereka. Sebab, tujuan dari pelajaran prakarya adalah mendidik siswa agar menjadi seorang wirausahwan yang mandiri. Melalui wisata tersebut saya berharap kelak ada diantara mereka yang menajdi pengusaha lele.
Apa saja manfaat berwisata ke kolam lele bagi siswa?
1.      Menambah wawasan
2.      Memberikan inspirasi tentang kewirausahaan
3.      Menambah pengalaman hidup
4.      Memancing rasa ingin tahu
5.      Menyegarkan fikiran
6.      Memberikan nuansa baru
7.      Melatih interaksi dengan orang lain

Demikian pengalaman wisata kami ke kolam lele. Pengalaman wisata kali ini benar-benar berkesan dan membuat kami bertambah pintar.  Selamat berwisata. Majulah Wisata Indonesia.

tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan okeynotes 2017.

Minggu, 29 Oktober 2017

LAWAN BULLYING, SEBAB DIAM BUKAN PILIHAN

sumber: gauthemen.blogspot.co.id

Belum hilang dari ingatan kita kasus bullying siswi SMP di MH Thamrin yang viral pada bulan juli lalu, kini kembali beredar video bullying seorang siswi SMA di Palembang. Tidak tanggung-tanggung, video bullying tersebut disiarkan secara langsung via Instagram. Sungguh kejadian yang membuat kita mengelus dada. Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam melalui situs resmi KPAI menyatakan bahwa kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2015 menurun, namun kasus bullying pada anak justru meningkat. Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasa Putra dalam situs CNN Indonesia menjelaskan, sejak tahun 2011 hingga 2016 pihaknya telah menemukan sekitar 23 ribu kasus kekerasan fisik dan psikis terhadap anak. Namun, khusus untuk bullying, tercatat ada sekitar 253 kasus. Jumlah tersebut terdiri dari 122 anak yang menjadi korban dan 131 anak yang menjadi pelaku. 
Hingga Kementerian Sosial pun memberikan perhatian khusus pada kasus bullying. Dari data survey kemsos dalam situs CNN Indonesia ditemukan data sebanyak 84% anak usia 12 hingga 17 tahun pernah menjadi korban bullying. Selain itu dari layanan yang dibuka kemsos melalui telepon sahabat anak atau TESPA sejak januari hingga 15 juli, tercatat ada 976 pengaduan dan 117 diantaranya adalah kasus bullying
Data-data diatas belum termasuk kasus-kasus bullying yang tidak laporkan. Sebab, tidak semua korban bullying memiliki keberanian untuk melaporkan bullying yang dialaminya. Berikut merupakan ulasan penulis tentang bullying
sumber: pelatihanparenting.com


Pengertian Bullying
Bullying berasal dari kata bull yang artinya banteng. Seperti kita ketahui banteng mempunyai sifat suka menyerang dengan bringas menggunakan tanduknya. Menurut Kamus Inggris Indonesia, bully  berarti menggertak, mengganggu orang yang lemah. Menggertak berasal dari kata gertak, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gertak memiliki makna teriakan atau suara dengan nada tinggi untuk menakut-nakuti, sedangkan menggertak memiliki arti menakut-nakuti dengan kata-kata atau suara keras. Mengganggu mempunyai arti menggoda, membuat tidak tenang. Secara luas Wikipedia Indonesia menerjemahkan bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Berdasarkan paparan di atas, bullying bisa diartikan sebagai tindakan mengganggu atau menindas orang yang lemah dengan semena-mena dengan tindakan berupa kekerasan, baik fisik maupun psikis, ancaman,baik secara lisan maupun tulisan, dan paksaan.
Bullying sendiri merupakan istilah yang baru populer beberapa tahun belakangan untuk mengemas tindakan serupa yang parktiknya telah berlangsung lama. Ya, praktek bullying telah ada bertahun-tahun yang lalu. Menurut pengamatan saya, tindakan bullying semakin berani dari tahun ke tahun. Dulu, pelaku bullying melakukan tindakannya dengan sembunyi-sembunyi, namun kini pelaku bullying berani dengan terang-terangan memvideokan tindakannya, bahkan berani menyiarkannya secara langsung di media sosial seperti instagram. Sungguh sangat memprihatinkan.
lalu apa beda bullying dengan bercanda? Dari survei yang dilakukan PESONA terhadap 100 orang dari berbagai profesi di bulan Agustus 2016, bullying itu berbeda dari bercanda karena bullying:
1.    Memberi rasa tidak nyaman kepada orang yang jadi objek bercanda. Berbeda dari tersinggung, ketidaknyamanan ini terasa menganggu.
2.    Merendahkan dan menghina. Jadi, bercanda dengan dua hal tersebut sama sekali tak bisa ditoleransi.
3.    Memojokkan objek bercanda sebagai tujuan atau topik utamanya. Apalagi jika sudah main fisik.
4.    Memuaskan satu pihak saja. Namanya bercanda, harusnya kita sama-sama tertawa senang. Tapi jika hanya memuaskan satu pihak, sementara pihak lain jadi bulan-bulanan, itu bisa dikategorikan sebagai bullying.
5.    Dilakukan berulang kali. Menurut Adiyat Yori, aktivis anti-bullying dari Sudahdong.com, perbedaan antara bercanda dan bullying itu adalah bulllying dilakukan berulang kali kepada objek yang sama.
Bentuk-bentuk Bullying
Andrew Mellor dalam situs KPAI menjelaskan bahwa ada beberapa jenis bullying, yakni:
(1) bullying fisik, yaitu jenis bullying yang melibatkan kontak fisik antara pelaku dan korban. Perilaku yang termasuk, antara lain: memukul, menendang, meludahi, mendorong, mencekik, melukai menggunakan benda, memaksa korban melakukan aktivitas fisik tertentu, menjambak, merusak benda milik korban, dan lain-lain. Bullying fisik adalah jenis yang paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi dibandingkan bullying jenis lainnya;
(2) bullying verbal melibatkan bahasa verbal yang bertujuan menyakiti hati seseorang. Perilaku yang termasuk, antara lain: mengejek, memberi nama julukan yang tidak pantas, memfitnah, pernyataan seksual yang melecehkan, meneror, dan lain-lain. Kasus bullying verbal termasuk jenis bullying yang sering terjadi dalam keseharian namun seringkali tidak disadari;
(3) bullying relasi sosial adalah jenis bullying bertujuan menolak dan memutus relasi sosial korban dengan orang lain, meliputi pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan atau penghindaran. Contoh bullying sosial antara lain: menyebarkan rumor, mempermalukan seseorang di depan umum, menghasut untuk menjauhi seseorang, menertawakan, menghancurkan reputasi seseorang, menggunakan bahasa tubuh yang merendahkan, mengakhiri hubungan tanpa alasan, dan lain-lain;
(4) bullying elektronik merupakan merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan melalui media elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail, SMS, dan lain-lain. Perilaku yang termasuk antara lain menggunakan tulisan, gambar dan video yang bertujuan untuk mengintimidasi, menakuti, dan menyakiti korban. Contoh cyber bullying yaitu bullying lewat internet.
Cyber bullying semakin marak belakangan ini. Sebagai contoh adalah cyber bullying yang dialami oleh Afi Nihaya Faradisa yang menggemparkan facebook beberapa waktu yang lalu. Afi dibully karena status-statusnya yang kontroversial dan dianggap memplagiasi karya orang lain. Cyber bullying yang dialaminya sangat menggangu psikologisnya. Afi merasa sedih, terganggu, dan tertekan. Bagaimanapun bentuknya tindakan bullying tidak dibenarkan dan tak ada satu orang pun yang layak untuk dibully.


Dampak Bullying
Saya teringat dengan kisah Amanda Todd, remaja asal Kanada ini tewas bunuh diri karena tidak kuat menanggung bully yang dialaminya. Amanda ditemukan bunuh diri dengan cara menggantung diri. Ternyata percobaan bunuh diri Amanda ini bukan yang pertama kalinya. Amanda pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri karena kejadian bullying yang dialaminya. Amanda pun memposting video tentang bullying yang dialaminya sebelum bunuh diri.


 Berikut merupakan dampak bullying bagi korban:
·      Munculnya berbagai masalah psikis, seperti cemas, gelisah, gangguan tidur, hingga deperesi.
·      Munculnya masalah kesehatan, seperti sakit kepala, sakit perut, kerja jantung menjadi lebih berat
·      Korban bulllying akan mengalami penurunan prestasi akademis dan semangat belajarnya pun akan berkurang.
·      Korban bullying akan merasa tidak aman dan merasa cemas berlebihan
·      Korban bullying akan mengalami trauma yang bisa terbawa hingga dewasa
·      Korban bullying bisa jadi akan membalas dendam, sehingga dia pun akan menjadi pelaku bullying
·      Pada kasus yang parah bullying bisa membuat korban putus asa dan melakukan tindakan yang membahayakan nyawanya, seperti bunuh diri

Peran Orang Tua, Guru, dan Pemerintah untuk Mencegah Bullying
Orang tua mempunyai peranan yang penting bagi pencegahan bullying. Namun entah disaari atau tidak, justru orang tualah pelaku pertama bullying, meskipun saya yakin orang tua tidak bermaksud demikian. Sebagai contoh, ada orang tua yang memanggil anaknya dengan sebutuan ‘si gendut’. Panggilan tersebut dilakukan berulang-ulang, bahkan anggota keluaarga lain maupun teman-temannya ikut memanggil demikian. Hingga timbulah rasa tidak percaya diri pada anak. Sehingga sebaiknya sebagai orang tua tidak dianjurkan memanggil anak dengan sebutan serupa. Berikut merupakan peranan orang tua dalam mencegah bullying:
1.   Tanamkan nilai-nilai agama kepada anak. Nilai agama yang tertanam kuat pada anak adalah kontrol untuk setiap tindakan anak.
2.   Orang tua harus menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak, sehingga anak bisa dengan bebas menceritakan apapun kepada orang tua.
3.   Orang tua hendaknya memberikan contoh yang baik, sebab anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru cara orang tua berbicara, berperilaku, hingga cara orang tua menghadapi suatu masalah. Maka berikanlah contoh yang baik kepada anak
4.   Mengajarkan anak tentang cara menghormati orang lain. Beritahu anak untuk tidak membeda-bedakan maupun mempermasalahkan perbedaan dengan sesamanya, seperti perbedaan agama dan ras.
5.   Mengajari anak untuk berempati kepada sesama
6.   Berikan anak pujian bila melakukan suatu kebaikan
7.   Jangan membanding-bandingkan anak dengan saudara atau temannya. Karena setiap anak adalah unik.
8.   Latih anak untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Selain orang tua, lingkungan sekolah mempunyai peran yang sangat besar terhadap kasus bullying  pada anak. Sekolah merupakan salah satu tempat menjamurnya bullying. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Siswati di SD Negeri Semarang, 37,55% siswa dari kelas 3 sampai kelas 6 pernah menjadi korban bullying. 42,5% diantaranya mengalami bullying secara fisik. Sungguh angka yang sangat memprihatinkan. Sehingga sudah seharusnya sekolah dan komponen didalamnya, termasuk guru, memberikan rasa aman kepada peserta didiknya. Guru adalah orang tua kedua bagi siswa. Guru utamanya guru kelas/wali kelas/BK mempunyai peranan yang sangat penting untuk mencegah terjadinya tindakan bullying. Peran guru antara lain:
1.   Guru bisa menjadi teman curhat bagi siswa. dengan adanya komunikasi antara guru dan siswa diharapkan bisa mencegah tindakan bullying dan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh siswa
2.   Guru mengajarkan siswa tentang cara menghormati, bertoleransi, dan menghargai perbedaan antar siswa
3.   Guru mampu menjadi tauladan yang baik bagi siswa.
4.   Guru hendaknya menjadi tempat yang bisa dipercaya siswa, sehingga ketika anak dibully mereka tidak ragu untuk melaporkannya kepada guru.
5.   Guru dan sekolah hendaknya menindak tegas setiap perbuatan bullying yang terjadi di sekolah dan memberikan efek jera kepada pelaku, sehingga pelaku tidak mengulangi perbuatannya.
Pemerintah pun nampaknya tidak tinggal diam. Presiden Joko Widodo dalam situs KPAI menaruh perhatian yang serius terhadap kasus bullying. Tak ketinggalan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pun mengeluarkan Peraturan yang tertuang dalam Permendikbud nomer 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru. Seperti kita ketahui masa pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru merupakan waktu dimana bullying banyak terjadi. Sehingga Kemendikbud mengeluarkan peraturan yang salah satunya berisi larangan pemakaian atribut seperti: tas karung, tas plastik, aksesoris kepala yang tidak wajar. Selain larangan menggunakan atribut tertentu, Kemendikbud juga melarang beberapa aktivitas seperti memberikan hukuman yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik. Pemakaian atribut serta  beberapa kegiatan tersebut dilarang karena berpotensi menimbulkan bullying bagi siswa baru. Mengingat bahwa siswa baru adalah sasaran empuk bullying bagi para senior. Sebagai contoh kasus  bullying fisik terhadap Ary salah satu siswa SMA di jakarta yang dianiaya oleh kakak kelasnya saat Masa Orientasi Siswa (MOS). (sumber okezone)
Lampiran Permendikbud
Tentunya pencegahan dan pemberantasan bukanlah hal yang mudah, ibaratnya seperti memutus lingkaran setan. Sehingga diperlukan kerja sama dari semua pihak yang terlibat. Termasuk di dalamnya adalah keberanian korban bullying untuk melaporkan kejadian bullying yang dilaminya, sebab diam bukan pilihan.
sumber: ourcanadaproject.ca

Diam Bukan Pilihan
Tindakan bullying pun pernah saya alami sewaktu menduduki jenjang SMP, saya dengan tampilan fisik yang mungkin menurut beberapa orang termasuk ‘kurang menarik’ adalah sasaran empuk bagi pelaku bullying. Beberapa teman pernah mengolok-olok fisik saya yang mereka anggap tidak cantik. Namun hal itu tak berlangsung lama, sebab ketika mengetahui kemampuan akademis saya, sikap mereka berubah 180o. mereka pun menjadi lebih ramah karena memiliki maksud tersembunyi, yaitu supaya saya membantu mereka dalam permasalahan akademis, seperti memberikan contekan PR, memberikan jawaban ulangan dan sebagainya. Namun saya pun tak semudah itu memberikan apa yang mereka mau, hingga akhirnya mereka pun mulai membully saya lagi dengan olok-olokan hingga mencoret-coret LKS dan buku yang saya miliki. Tindakan bullying  tersebut akhirnya berhenti saat saya bersikap tegas dan melawan, rupa-rupanya mereka hanya menggertak saja dan tidak berani bertindak lebih jauh.
Rupanya kisah saya diatas jauh lebih beruntung dibandingkan dengan teman saya, sebut saja si A yang berada di kelas yang berbeda. Hingga lulus SMP, si  A tersebut selalu menutup mulutnya dengan menggunakan sapu tangan. Kejadian bermula dari si A yang menyukai seorang siswa sebut saja si B, namun si B bukannya membalas cinta si A, malah balik mengolok-olok si A dengan sebutan gadis berbau mulut. Bahkan si B pun mengolok-olok si A di depan umum. Semenjak kejadian itu si A pun mengisolasi dirinya dari pergaulan dan selalu menutup mulutnya dengan menggunakan sapu tangan. Kami pun sebagai teman takut dan hanya berdiam diri melihat kejadian tersebut, pasalnya si B sangat popular dan berkuasa di sekolah kami. Hingga kini, hampir 15 tahun berselang, kami pun tidak mengetahui keadaan dan keberadaan si A, karena setelah lulus SMP si A tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Kejadian yang dialami si A tersebut merupakan contoh bullying berupa bullying verbal yang mempengaruhi psikologis korbannya bahkan tak menutup kemungkinan akan mempengaruhi masa depan korban bila tidak terselesaikan dengan baik.
Kejadian yang dialami A mungkin akan lain ceritanya bila A berani melaporkan kejadian yang dialaminya. Sebab diam bukan pilihan. Melaporkan tindakan bullying bukanlah tindakan pengecut, sebab tindakan tersebut berhubungan dengan masa depan dan hak seseorang. Jika anda menjadi korban bullying beranikanlah untuk melaporkan kejadian yang anda alami. Bila anda di rumah, laporkanlah pada orang tua. Bila anda di sekolah laporkanlah pada guru anda. Berikut tips menghindari bullying fisik dari psikolog Mellisa Grace yang dikutip dari facebook Kerlip Melati.



Berikut merupakan video tips mencegah dan menghentikan bullying

Sekali lagi, jangan diam. Diam bukan pilihan. Baik bila kita diposisi korban maupun saksi yang melihat kejadian bullying. Laporkan kepada orang tua, guru, atau pihak berwajib.
LembagaPerlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Lalu bagaiman bila korban bullying tidak mempunyai tempat untuk melaporkan bullying yang dialaminya? Jawabannya adalah LPSK. LPSK merupakan lembaga mandiri yang didirikan dan bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan pada saksi dan korban. LPSK dibentuk berdasarkan UU No. 13 Tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban.
Jadi jangan ragu lagi untuk melawan bullying dengan cara yang benar, yakni dengan cara melaporkannya, sebab diam bukan pilihan. LPSK siap melindungi. Semoga bermanfaat.
#DiamBukanPilihan
#LPSKMelindungi


This entry was posted in