Jumat, 06 Desember 2019

LAPORAN KEGIATAN SIMPOSIUM NASIONAL GURU MADRASAH


Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam akan menggelar Simposium Nasional (Simnas) Guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Madrasah. Kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan Hari Guru Nasional. Jumlah pendaftar dalam Simnas GM ini sekitar 1200 pendaftar, namun makalah yang terdaftar sekitar 536 makalah. dari 536 makalah ini kemudian diseleksi, 20 makalah terbaik akan tampil menjadi pemakalah Simnas GM, sedangkan 150 makalah terbaik selanjutnya menjadi peserta aktif. Direktur GTK Madrasah, Bapak Suyitno mengatakan bahwa simposium ini digelar untuk mewadahi ide, gagasan, dan kreatifitas guru terkait bidang pendidikan. sebagai tambahan, kegiatan Simnas ini merupakan kegiatan GTK pertama yang full online, tidak berisik, dan paper less. Seleksi karya tulis hingga nanti pembagian piagam dilakukan secara online. berikut ringkasan kegiatan Simposium Nasional Guru Madrasah.



Tema Kegiatan             : Guru Madrasah yang Profesional dan Moderat di Era Disrupsi
Tempat Kegiatan          : Harris Hotel and Convention Surabaya
Waktu Kegiatan           : 2-4 Desember 2019

A. Pembukaan
1.      Sambutan Kakanwil Kemenag Jawa Timur (diwakili oleh Kabid Pendidikan Madrasah Jatim)
Dalam sambutannya beliau menyampaikan kekuatan yang perlu dipersiapkan peserta didik: a) kekuatan fisik, b) kekuatan mental, c) kekuatan ilmu
Kunci guru profesional: a) cerdas, mampu memaknai peristiwa yang ada di lingkungan, b) mau belajar terus menerus, c) sabar dalam mencapai sesuatu, d) rela berkorban, e) tulus mendidik.

     B. Sambutan direktur GTK (Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag)
a)      Kegiatan ini dalah kegiatan yang pertama di direktorat GTK yang berbasis brainstorming dan digitalisasi.
b)      Ada 4 hal yang harus dipersiapkan untuk menjadi Madrasah Digital yaitu a) sistem PPDB digital, b) administrasi digital, c) pembelajaran daring / e-learning, d) penilaian digital
c)      Pembelajaran terbaru adalah pembelajaran yang berbasis internet.



     C. DISKUSI PANEL
1.  PANELIS : Mark Heyward, PhD, program directur Inovasi Pembelajaran.
Paparan Materi:
a)      Trend Perkebangan Madrasah: dalam kurun 5 tahun terakhir, jumlah madrasah dan jumlah siswa madrasah mengalami kenaikan.
b)      How to improve the professional quality of teacher:
1.      Recruitmen guru terbaik
2.      Teacher education
3.      Teacher sertification
4.      Profesional development
5.      Coaching
6.      Career path
c)      Bagaimana guru belajar?
a.       Guru belajar bersama teman se profesi
b.      KKG dilakukan secara rutin
c.       Pengembangan diri secara mandiri
d.      Pembelajaran aktif berbasis kelompok
e.       Lingkungan belajar aman dan nyaman
f.        Tujuan jelas dan bisa dicapai
d)      Inovasi harus dilakukan sebab: hasil PISA rendah. Inovasi berfokus pada: Literasi, numerasi, inklus sosial



    D. PANELIS : Bahrul Hayat, PhD
a)      Guru berasal dari Bahasa Sansekerta. Gu artinya bayangan, Ru artinya orang. Guru adalah orang yang bertugas membuyarkan bayangan / kegelapan pikiran dan hati siswa.
b)      11 pesan menghadapi era disrupsi
1.      Ubah pola pikir, fix mindset menjadi growth mindset
2.      Comfort zone ke learning zone
3.      Lakukan self directed continous professional development
4.      Gunakan multiple mode of learning and resources
5.      Kembangakan collaborative learning
6.      Go global
7.      Bangun dan aktif dalam organisasi atau asosiasi
8.      Go mobile
9.      Keep learning
10.  Tanamkan kepada anak sikap moderasi, menghormati, dan bekerja sama
11.  Jadilah motivator anak



Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dari 20 pemakalah terpilih yang dibagi menjadi 3 kelas.

     C. PENUTUPAN
Kegiatan ini ditutup oleh Dirjen Pendidikan Islam, Bapak Kamaruddin Amin.

Guru Madrasah harus memiliki kemampuan berfikir kritis agar apa yang diajarkan tidak hanya bersifat informatif. Sehingga selain mengerti pelajaran, siswa juga mengerti kemampuan critical thingking. 


Selasa, 26 November 2019

Guru sebagai Agen Anti Hoax di Dunia Pendidikan

Guru sebagai Agen Anti Hoax di Dunia Pendidikan
(Nikmatur Rohmaya, S.Pd, Guru Kimia MAN Buleleng)


Tahun 2019 santer disebut sebagai tahun politik. Sebab, pada tanggal 17 April mendatang ada even besar yang akan berlangsung, yakni pemilihan presiden dan anggota legislatif. Namun berita bohong alias hoax melalui dunia maya telah tersebar bagai jamur di musim penghujan. Hal tersebut patut menjadi perhatian, sebab penyebaran hoax bisa berdampak fatal yakni bisa mengadu domba bahkan bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa.
Tak bisa dipungkiri Penggunaan smartphone telah menjadi tren di kalangan masyarakat. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), proyeksi data pengguna internet di Indonesia pada tahun 2019 sudah mencapai 65,3% dari total penduduk Indonesia dan lebih dari 60 juta orang telah memiliki smartphone yang menempatkan Indonesia di urutan kelima dunia. Namun fenomena tersebut tak lantas menjadikan pengguna smartphone menjadi smart. Hal tersebut dibuktikan dengan begitu cepatnya penyebaran pesan berantai tanpa mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Apalagi hampir semua smartphone  telah didukung dengan sosial media seperti facebook, twitter, whatsapp. Bahkan beberapa sosial media telah dilengkapi dengan fitur canggihnya seperti broadcast massages, hanya tinggal click enter langsung tersebar ke puluhan bahkan ratusan pengguna lainnya. Fasilitas broadcast massages bagaikan dua sisi mata uang, disamping menguntungkan karena pesan bisa langsung tersebar dan diterima oleh banyak pengguna, namun juga merugikan manakala pesan yang tersebar justru adalah pesan bohong alias hoax.
A.      Pengertian Hoax
Hoax diperkirakan muncul pertama kali pada tahun 1808 pada era industri dan diduga dari kata ‘hocus’ yang memiliki arti untuk mengelabui (wikipedia Indonesia). Istilah hoax sendiri mulai naik daun di kalangan pengguna internet setelah film The Hoax beredar pada tahun 2007 yang berkisah tentang skandal pembohongan atau penipuan yang terjadi di Amerika Serikat yang diangkat dari kisah nyata.
Hoax dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai berita bohong. Menurut Wikipedia Indonesia pemberitaan palsu (Bahasa Ingris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat-buat seolah benar adanya. Hoax adalah berita bohong yang dibuat seolah-olah benar adanya dan sengaja direncanakan oleh penyebarnya dengan tujuan memprovokasi dan memberikan pemahaman yang salah sehingga bisa menggiring pembacanya ke arah opini negatif.
B.       Cara Mengidentifikasi hoax
Berikut merupakan cara mengidentifikasi hoax berdasarkan ciri-cirinya:
1.        Judul bisanya menggunakan huruf kapital, huruf tebal, banyak tanda seru, serta bersifat provokatif. Anda patut curiga bila menerima pesan yang judulnya menggunakan huruf kapital, ditebalkan serta menggunakan tanda seru secara berlebihan. Selain itu judul hoax biasanya bersifat provokatif, karena tujuan hoax sendiri adalah untuk mempengaruhi dan memprovokasi pembacanya.
2.        Tidak mencantumkan sumber, kalaupun mencantumkan sumber tidak terpercaya/palsu. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Namun dari jumlah tersebut yang terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai (www.kominfo.go.id).
3.        Menggunakan foto palsu. Di zaman yang serba canggih ini, mengedit foto adalah pekerjaan yang bisa dikatakan mudah. Bahkan ada foto editan yang tidak bisa dibedakan dengan foto asli. Foto editan alias foto palsu tersebut digunakan untuk mendukung berita hoax  yang disebarkan oleh pelaku sehingga pembaca benar-benar mempercayai hoax tersebut. Bila anda ingin mengecek keaslian suatu foto ternyata sangat mudah. Buka google image dan klin icon kamera dan upload foto yang akan dicek atau bisa juga dicopy paste link/url yang akan dicek kebenarannya.
4.        Menyudutkan pihak-pihak/produk tertentu. Berita hoax memiliki isi yang tidak berimbang dan biasanya membahas sesuatu dari satu sisi saja. Tidak tanggung-tanggung, hoax menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan gamblang, bahkan tertera dengan jelas nama pihak yang disudutkan pada  judul.
C.      Dampak negatif dari hoax
Hoax mempunyai dampak negatif sebagai berikut:
1.      Meresahkan dan membuat bingung masyarakat
2.      Merugikan pihak-pihak tertentu
3.      Memecah belah persatuan dan kesatuan
4.      Menimbulkan opini yang buruk terhadap seseorang atau suatu produk
5.      Memprovokasi masayarakat ke arah opini negatif
D.      Tips Melawan Hoax
Berikut merupakan tips untuk melawan hoax:
1.        Jangan langsung menshare berita yang tersebar di media sosial seperti facebook dan whatsapp, baca terlebih dahulu berita/informasi secara keseluruhan/detail, jangan sepotong-potong apalagi hanya membaca judulnya saja.
2.        Cek kebenaran berita, bila berita tersebut benar biasanya ada banyak situs yang memuat berita tersebut. Segera cek di search engine. Namun bila hanya satu situs saja yang membahas, anda patut waspada.
3.        Cek kesesuaian gambar dengan isi berita. Waspadai gambar palsu yang sengaja dibuat untuk mendukung hoax
4.        Kunjungi link yang tertera, cek apakah link sesuai dengan berita, situsnya resmi atau tidak, pemilik akun bisa dipercaya atau tidak.
5.        Adukan berita hoax ke Kemenkominfo melalui email ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id
6.        Kunjungi laman data.turnbackhoax.id untuk melaporkan hoax
7.        Untuk pengguna media sosial seperti facebook  dan instagram bisa menggunakan fitur laporkan masalah yang ada di pengaturan. Jika banyak pihak yang melaporkan, maka facebook akan menghapus status tersebut.
E.       Peran guru sebagai agen anti hoax di dunia guruan
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah penyebaran hoax di dunia pendidikan. Berikut yang dapat dilakukan oleh guru sebagai agen anti hoax.
1.        Menjadi teladan
Guru kepanjangan dari digugu lan ditiru, maka sudah sepatutnya guru memberikan teladan kepada siswa. Pemberian contoh yang baik akan lebih efektif dalam menanamkan karakter anak dibandingkan dengan menyuruh/memerintah siswa.
2.        Menanamkan pendidikan karakter
Dalam proses belajar mengajar, hendaknya guru menanamkan guruan karakter kepada siswa, sehingga siswa mempunyai karakter baik yang kuat, jujur, kritis, dan tak mudah terprovokasi dan terbawa arus.
3.        Membudayakan tabayun
Tabayun berarti teliti. Sehingga dengan tabayyun kita tidak tergesa-gesa menyebarkan suatu berita tanpa cek kroscek dan mencari informasi secara lengkap sehingga jelas kebenarannya. 
4.        Membumikan literasi digital
Literasi digital secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi dan informasi serta perangkat digital. Jadi literasi digital tidak hanya terbatas apakah seseorang bisa menggunakan perangkat digital, namun juga sikap memilih dan memilah serta menganalisis secara kritis arus informasi digital yang diterimanya. Sehingga dengan adanya literasi digital pengguna akan lebih kritis dalam menghadapi hoax dan tidak mudah terporvokasi, tidak hanya itu pengguna pun dapat  bergerak aktif untuk menciptakan konten-konten positif yang bermanfaat yang dapat menandingi konten negatif dari hoax.
5.        Mengedukasi siswa
Guru dapat mengajari siswa cara cara bijak menggunakan smatphone  dan internet, cara mengidentifikasi hoax atau bukan, serta menyuruh siswa untuk tidak mudah percaya begitu saja pada berita hoax.
            Demikian beberapa hal yang dapat guru lakukan sebagai agen anti hoax. Mari kita sukseskan pemilu 2019 tanpa hoax. Semoga bermanfaat.
Daftar Rujukan:


catatan: Tulisan ini telah diterbitkan di Majalah Menyame Braye Kantor Kementerian Agama Provinsi Bali Edisi September 2019

Selasa, 06 Agustus 2019

Diet Sampah PSP Ala Milenials


Sampah kini telah menjadi permasalahan Nasional yang perlu ditangani dengan serius. Menurut Undang-undang Nomer 18 Tahun 2008, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah sampah plastik. Plastik telah lama digunakan dan seakan tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang. (https://bulelengkab.go.id)
Jenis plastik yang sering ditemui adalah plastik sekali pakai atau PSP (single use plastic). Jenis plastik ini biasanya hanya digunakan sekali saja. Contoh PSP seperti kemasan air mineral, kemasan makanan seperti snack, kantong plastik, hingga sedotan. Praktis dan mudah, begitulah karakteristik plastik sekali pakai. Maka tidak heran bila penggunaan plastik sekali pakai semakin lama semakin meningkat. Alhasil, sampah PSP yang dihasilkan pun semakin banyak dan menumpuk. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut dan menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut.
Sumber: http://disasterchannel.com
Berbagai macam cara telah dilakukan untuk mengelola sampah, seperti penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (reduce) sampah menjadi berbagai macam benda yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Namun daur ulang saja tidak cukup ampuh untuk mengatasi persoalan sampah. Hanya sebagian kecil masyarakat yang melakukan daur ulang sampah plastik sekali pakai, yang menyebabkan ketidakseimbangan dengan sampah plastik sekali pakai yang dihasilkan. Pada akhirnya, sampah plastik sekali pakai akan berujung di tempat pembuangan sampah atau terbuang di tanah, sungai, hingga lautan. Sampah plastik sekali pakai merupakan sampah yang sulit terurai dan membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk menguraikannya. Sehingga dalam waktu yang lama, sampah plastik sekali pakai hanya akan menjadi timbulan sampah yang menimbulkan dampak negatif, tidak hanya bagi manusia namun juga bagi lingkungan hidup seperti kelestarian hewan-hewan laut dan burung. Masih jelas diingatan kita pada tahun 2018 silam, di Desa Kapota Sulawesi tenggara ditemukan paus terdampar. Yang miris adalah ketika dilakukan identifikasi ditemukan berbagai macam sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik sekali pakai, diantaranya 115 buah gelas plastik, 25 buah kantong plastik, 19 buah plastik keras, hingga lebih dari 1000 potong tali rafia (nationalgeographic.co.id). Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut perlu dicarikan solusi dari sekedar reuse dan reduce. Pengurangan dan pembatasan penggunaan sampah plastik sekali pakai disinyalir lebih efektif dari pada daur ulang. Pengurangan penggunaan sampah plastik atau yang lebih keren disebut dengan istilah diet sampah PSP tengah gencar-gencarnya disosialisaikan dan diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang gencar membatasi penggunaan sampah plastik sekali pakai adalah Bali. Gubernur Bali membatasi sampah plastik sekali pakai yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 Tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Supaya program tersebut berjalan lancar, maka semua pihak harus terlibat aktif dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tak terkecuali para kaum milenials. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah milenials pada tahun 2019 diproyeksi sebanyak 23,77% atau hampir seperlima jumlah penduduk Indonesia (www.bps.go.id). Kaum milenials digadang-gadang sebagai agent of change  atau agen perubahan yang diharapkan membawa perubahan yang lebih baik di masa depan sehingga milenilas yang diantaranya terdiri dari pelajar memiliki peranan penting dalam mengurangi sampah PSP di lingkungan sekolahnya. Di sekolah-sekolah sudah banyak ditemukan slogan-slogan seperti ‘buanglah sampah pada tempatnya’. Namun tulisan tersebut hanya mengajarkan milenials untuk membuang sampah saja, tak sampai pada tahap anjuran pengeloaan, seperti memilih, memilah, mendaur ulang, dan diet sampah yang harusnya lebih ditekankan pada kaum  milenials. Diet sampah PSP bagi kaum milenials merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Fakta di lapangan menunjukkan penggunaan PSP adalah hal yang lumrah dan sering ditemui seperti di sekolah-sekolah. Sehingga milenials tidak perlu merasa aneh dan canggung saat akan memulai diet sampah PSP. Justru milenials harus mejadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya masing-masing.
Berikut diet sampah ala milenials yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1.        Membawa kotak makan dan tempat minum sendiri
Kebiasaan yang sering ditemui di kantin sekolah adalah penggunaan kertas minyak untuk membungkus nasi, plastik untuk membeli minuman seperti es, serta tak ketinggalan atributnya yaitu sedotan. Belum lagi kemasan snack-snack yang di konsumsi. Maka tak heran bila ada penelitian yang menyatakan bahwa rata-rata sampah yang dihasilan pe rorang adalah 800 gram (www.antaranews.com). Wow, bisa dihitung sampah yang dihasilkan selama setahun mencapai 292 kg. Solusinya adalah milenals bisa membawa kotak makan dan tempat minum sendiri.
2.        Menolak sedotan dan sendok plastik
Sedotan dan sendok plastik merupakan contoh plastik sekalai pakai yang banyak digunakan. Berani bilang tidak ketika kita ditawari sedotan atau sendok plastik. Sebagai solusinya, kita bisa menggunakan sedotan yang terbuat dari logam atau bambu, selain ramah lingkungan sedotan tersebut bisa dipakau berulang kali dan bisa dibawa kemana saja. Jangan lupa pula membawa sendok logam atau sendok kayu ketika bepergian.
3.        Menolak kantong plastik
Ketika sedang berbelanja, bawalah kantong kain dan tolaklah kantong plastik yang diberikan. Belilah beberapa kantong kain dan simpanlah di kendaraan dan tas. Dengan menggunakan kantong kain, milenials dapat mengurangi penggunaan kantong plastik. Bila belanja dalam jumlah yang banyak, kardus bisa digunakan sebagai alternatif.  Milenilas juga bisa menggunakan kain tipis atau dutsbag yang yang biasanya didapat saat membeli tas sebagai alternatif kantong plastik.
4.        Pungut sampah yang ditemui
Milenials bisa memulai hal baik seperti memungut sampah yang ditemui dengan cara membuangnya di tempat sampah. Lebih keren lagi bila bisa memilah-milahnya berdasarkan jenis sampahnya. Di beberapa tempat biasanya telah disediakan lebih dari satu tempat sampah berdasarkan jenisnya. Ketika sudah dipilih dan dipilah, milenials bisa menggunakan sampah PSP yang masih bisa digunakan dan di daur ulang seperti kemasan air mineral dan sedotan untuk membuat kerajinan di sekolah.
5.        Menggunakan barang-barang isi ulang
Hal sepele yang sering terlupakan adalah penggunaan barang-barang isi ulang, seperti belilah bolpoin dan alat tulis yang bisa diisi ulang. Bagi laki-laki yang biasa menggunakan alat cukur, gunakanlah alat cukur yang bisa diisi ulang, sehingga bisa mengurangi sampah sekali pakai.
6.        Gunakan pembalut kain
Khusus untuk perempuan, cobalah menggunakan pembalut kain saat menstruasi. Sebab pembalut konvensional berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Beberapa kelebihan pembalut kain antara lain, bisa digunakan berulang kali, lebih ramah lingkungan serta tidak menimbulkan efek negatif bagi tubuh.
7.        Diet belanja online
Ternyata belanja online juga berpotensi menghasilkan sampah PSP yang berujung di tempat sampah. Produk dari belanja online biasanya dibungkus dengan banyak kemasan seperti kresek, kertas, dan kardus yang tentunya sudah tidak bisa digunakan. Jadi selama barang yang kita inginkan tersedia di toko sekitar kita, ada baiknya milenials lebih memilih belanja offline ketimbang online.
8.        Membeli secara curah
Belanja curah merupakan kebudayaan kita sejak lama. Konsumen dapat belanja menggunakan wadah atau tas kain dari rumah. Belanja secara curah juga memungkinkan konsumen membeli barang secukupnya sehingga tidak mubazir. Dengan kembalinya perilaku belanja ke masa lalu tersebut ternyata cukup ampuh untuk mengurangi sampah PSP.
Diet sampah plastik ini juga merupakan salah satu dukungan terhadap parlemen yang secara serius berusaha menangani masalah sampah. Salah satu bentuknya adalah komisi VII DPR RI mengkomunikasikan dengan pemerintah untuk segera menangani sampah plastik melalui rapat dengan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan membahas sampah dan limbah plastik (m.mediaIndonesia.com). Jadi sebagai kaum milenial mari kita dukung DPR RI dengan cara diet sampah.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, sampah plastik sekali pakai (PSP) merupakan sampah yang lumrah ditemui di berbagai tempat, seperti sekolah. Pelajar yang merupakan bagian dari kaum milenials memiliki peranan yang penting dalam mengatasi sampah PSP, yaitu dengan mengurangi penggunaan PSP dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi sampah PSP atau yang lebih dikenal dengan istilah diet PSP antara lain; membawa kotak makan dan tempat minum sendiri, menolak sedotan dan sendok plastik, menolak kantong plastik, pungut sampah yang ditemui, menggunakan barang-barang isi ulang, gunakan pembalut kain, diet belanja online serta membeli barang secara curah. Demikian uraian tentang diet sampah PSP ala milenials. Mulailah saat ini, mulai dari diri sendiri, dan mulailah dari hal-hal keci. Jangan lupa juga untuk meningatkan teman, keluarga, dan orang-orang disekitar kita. Yuk cintai bumi dengan mlakukan diet sampah PSP ala milenials. Semoga bermanfaat.

Daftar Rujukan
Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua di Dunia. Kompas.com, diakses 23 Juli 2019
Generasi Milenials. Komifo.go.id, diakses 25 Juli 2019
Undang-undang Nomer 18 Tahun 2008 Tentang  Pengelolaan Sampah.
Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 Tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.
https://www.antaranews.com/berita/140033/klh-akan-hitung-cepat-data-sampah

Minggu, 09 September 2018

Blended Learning: Solusi untuk Menyiasati Kekurangan Waktu Mengajar



Catatan: Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Madani MAN Patas Volume 7 Tahun 2016  dan diperbarui pada tanggal 9 September 2018. Berikut ulasan lengkapnya.

   Salah satu permasalahan yang sering kali dihadapi guru adalah kurangnya waktu mengajar. Idealnya waktu mengajar telah dirumuskan melalui alokasi waktu yang mengacu pada kalender pendidikan dan dirinci menjadi rincian minggu efektif dan hari efektif, program tahunan, serta program semester. Alokasi waktu mengajar akan semakin berkurang dengan banyaknya waktu libur, seperti libur hari besar keagaamaan dan peringatan hari besar nasional. Hal-hal insidental, seperti rapat rutin dan undangan pelatihan, juga turut mengurangi waktu mengajar yang telah dirancang. Akibatnya, ketika mendekati ulangan akhir semester, guru kewalahan pasalnya materi yang diajarkan masih banyak sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas.
            Salah satu solusi mengatasi kekurangan waktu mengajar tersebut adalah dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi dan komunikasi dewasa ini berlangsung sangat pesat. Salah satu pengaruh perkembangan TIK dalam dunia pendidikan yaitu mulai bergesernya pembelajaran tatap muka (face to face) yang konvensional ke pembelajaran online (e-learning). Pada saat ini perkembangan TIK di bidang pendidikan memungkinkan diadakannya belajar jarak jauh menggunakan media internet. Namun, e-learning saja tidak cukup untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Hal ini dikarenakan tidak ada interaksi dan umpan balik antara guru dan siswa, sehingga diperlukan suatu metode yang dapat memadukan antara pembelajaran tatap muka yang konvensional dan pembelajaran online. Metode yang dimaksud adalah Blended Learning.
Blended Learning berasal dari dua kata yaitu blended  dan learning. Dalam kamus lengkap Inggris Indonesia, kata blended berasal dari kata blend yang berarti campuran, perpaduan, sedangkan learning berasal dari kata learn yang berarti belajar, pembelajaran. Blended Learning merupakan suatu metode pembelajaran yang memadukan antara pembelajaran di kelas dengan pembelajaran online (e-learning). dengan kata lain, Blended Learning merupakan kombinasi antara pertemuan tatap muka (guru dan siswa saling berinteraksi secara langsung) dan pembelajaran mandiri berbasis online yang bisa diakses baik melalui komputer maupun handphone. Dengan menggunakan Blended Learning, pembelajaran akan lebih efektif dan efisien karena kedua metode pembelajaran memiliki keunggulan masing-masing. Metode pembelajaran tatap muka yang konvensional memungkinkan pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan menggunakan berbagai pendekatan dan strategi, sedangkan metode online dapat mengakses materi pembelajaran tanpa batasan ruang dan waktu.

           Seperti halnya metode pembelajaran lainnya, Blended Learning juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Blended Learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional maupun online
Kelebihan Blended Learning antara lain.
·        Memadukan pembelajaran konvensional dan online, sehingga Blended Learning bisa melengkapi kekurangan kedua metode tersebut.
·        Penyampaian materi dapat dilaksanakan kapan saja dan di mana saja dengan memanfaatkan jaringan internet, tetapi tetap dilengkapi dengan umpan balik saat pertemuan di kelas.
·        Guru dapat meminta siswa untuk mengkaji materi pembelajaran sebelum pembelajaran tatap muka berlangsung.
·        Bisa digunakan untuk menyiasati kekurangan waktu mengajar dan  menambah waktu pembelajaran via online.
·        Memudahkan siswa untuk mengakses materi pembelajaran.
·        Bisa digunakan untuk materi pelajaran yang banyak dan melimpah.
·        Kegiatan diskusi bisa berlangsung offline dan online.
·        Memungkinkan komunikasi dan diskusi dengan siswa yang tidak mau bertanya di kelas.
Kekurangan Blended Learning yaitu:
·           Tidak semua guru memiliki keterampilan untuk melaksanakan pembelajaran online.
·           Tidak semua siswa memiliki sarana dan prasana yang mendukung, seperti komputer, handphone, dan akses internet.
Media yang digunakan untuk melaksanakan Blended Learning sangat beragam bisa melalui web maupun media sosial yang sangat digandrungi siswa. Berikut beberapa media sosial yang bisa digunakan untuk melaksanakan metode Blended Learning.


1.        Facebook
Tak bisa dipungkiri bahwa facebook merupakan salah satu media sosial yang banyak diakses oleh siswa, sehingga facebook sangat cocok digunakan untuk menjalankan metode Blended Learning. Beberapa fitur dan sarana di facebook dapat dimanfaatkan sebagai penunjang metode Blended Learning antara lain:
a.      Facebook group
Melalui fitur facebook group, guru bisa mengumpulkan akun siswa dalam satu kelas ke dalam suatu grup yang dibuat khusus, grup kimia kelas XI IPA 1 MAN Patas misalnya. Melalui grup tersebut, guru bisa berinteraksi dan berdiskusi dengan siswa, begitu pula antarsiswa. Guru dapat mengajukan pertanyaan atau memancing diskusi mengenai materi pembelajaran yang akan atau telah diajarkan.
b.      Facebook share
Melalui fitur ini guru bisa membagikan materi singkat, gambar, link, atau video pembelajaran ke siswa sehingga siswa bisa mempelajari terlebih dahulu sebelum didiskusikan di kelas.
c.       Facebook note
Fitur ini memungkinkan guru membagikan ulasan materi yang lebih mendalam dan memungkinkan guru memberikan tugas berupa catatan. Guru atau siswa juga bisa menandai temannya, sehingga diskusi bisa lebih aktif.
2.        Whatsapp
Sama seperti halnya dengan facebook group, whatssapp group juga memungkinkan guru untuk mengumpulkan whatsapp pribadi siswa. Dalam grup ini guru dan siswa bisa berdiskusi mengenai materi pembelajaran. Guru dan siswa juga bisa saling berbagi materi, foto, dan video pembelajaran. Ditambah lagi belum lama ini Whatsapp memperbarui fitur untuk platform chatting-nya, sehingga pengguna bisa mengutip dan membalas pesan (quotes and replies) secara personal dalam obrolan grup. Hal ini memungkinkan diskusi menjadi lebih efisien dan terarah. Fitur rich preview yang dimiliki oleh whatssapp memberikan kesempatan bagi guru untuk mengirimkan link situs, blog atau semacamnya tentang materi pembelajaran. Selain itu, dengan adanya pesan berbintang memungkinkan siswa menyimpan hal-hal penting tanpa harus scrool chatting dan bisa dilihat suatu waktu.
3.        Blackberry Masanger (BBM)
BBM merupakan media sosial yang sedang tren dikalangan pelajar. Fitur yang bisa digunakan antara lain BBM group. BBM group memiliki fungsi yang hampir sama dengan whatssapp group. Selain itu, bbm group memiliki sarana obrolan video BBM yang memungkinkan diskusi menjadi lebih interaktif.
4. Google Classroom
Google merupakan salah satu perusahaan dengan pengguna terbanyak di dunia. kini google telah dilengkapi dengan fitur google classroom yang diperuntukkan untuk dunia pendidikan. dengan fitur ini guru bisa berdiskusi dengan murid, bisa memberikan tugas tanpa kertas dan banyak lagi lainnya. pembahasan lengkap tentang google classroom akan saya jabarkan dalam tulisan berikutnya ya. 

            Berdasarkan paparan di atas, Blended Learning  sangat mungkin diterapkan di sekolah seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ditunjang dengan menjamurnya aplikasi yang mendukung. Blended Learning dengan segala kelebihan dan kekurangannya bisa digunakan sebagai alternatif metode pembelajaran ketika materi yang diajarkan terlalu banyak sementara waktu yang tersedia terbatas. Selamat mencoba!


Sumber:
http://help.blackberry.com/in/bbm (diakses 27 Agustus 2016)
http://www.academia.edu/10886930 (diakses 27 Agustus 2016)