Peran Sosial Media untuk Menyiasati Kekurangan Waktu Mengajar

sumber: blog.duitpintar.com

Seringkali guru dihadapkan pada situasi ketidakseimbangan antara jam mengajar dengan materi yang diajarkan. Apalagi saat memasuk semester genap, waktu mengajar banyak yang terpotong untuk ujian kelas XII, seperti try out, ujian sekolah, ujian praktek, ujian sekolah berstandar nasional, ujian madrasah hingga ujian nasional.
Idealnya waktu mengajar telah dirumuskan melalui alokasi waktu yang mengacu pada kalender pendidikan dan dirinci menjadi rincian minggu efektif dan hari efektif, program tahunan, serta program semester. Alokasi waktu mengajar akan semakin berkurang dengan banyaknya waktu libur, seperti libur hari besar keagaamaan dan peringatan hari besar nasional. Hal-hal insidental, seperti rapat rutin dan undangan pelatihan, juga turut mengurangi waktu mengajar yang telah dirancang. Akibatnya, ketika mendekati ulangan akhir semester, guru kewalahan pasalnya materi yang diajarkan masih banyak sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas.
dokpri: kalender
Gambar diatas adalah contoh kalender pendidikan untuk mata pelajaran kimia kelas X. Materi kimia dengan KD yang berjumlah 4, yang materinya sangat melimpah hanya teralokasikan selama 51 jam saja. Tentunya sangat kurang, apalagi bila tidak diimbangi dengan kemampuan siswa yang kurang memadai. Lalu pakah guru harus marathon mengajar materi tanpa mempertimbangkan kemampuan siswa? ataukah guru tetap mengajar sesuai kemampuan siswa namun dengan resiko materi tidak tuntas?
Salah satu solusi mengatasi kekurangan waktu mengajar tersebut adalah dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi dan komunikasi dewasa ini berlangsung sangat pesat. Salah satu pengaruh perkembangan TIK dalam dunia pendidikan yaitu mulai bergesernya pembelajaran tatap muka (face to face)yang konvensional ke pembelajaran online (e-learning). Pada saat ini perkembangan TIK di bidang pendidikan memungkinkan diadakannya belajar jarak jauh menggunakan media internet. Namun, e-learning saja tidak cukup untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Hal ini dikarenakan tidak ada interaksi dan umpan balik antara guru dan siswa, sehingga diperlukan suatu metode yang dapat memadukan antara pembelajaran tatap muka yang konvensional dan pembelajaran online. Metode yang dimaksud adalah Blended Learning.
Blended Learning berasal dari dua kata yaitu blended  dan learning. Dalam kamus lengkap Inggris Indonesia, kata blended berasal dari kata blend yang berarti campuran, perpaduan, sedangkan learning berasal dari kata learn yang berarti belajar, pembelajaran. Blended Learning merupakan suatu metode pembelajaran yang memadukan antara pembelajaran di kelas dengan pembelajaran online (e-learning). dengan kata lain, Blended Learning merupakan kombinasi antara pertemuan tatap muka (guru dan siswa saling berinteraksi secara langsung) dan pembelajaran mandiri berbasis online yang bisa diakses baik melalui komputer maupun handphone. Dengan menggunakan Blended Learning, pembelajaran akan lebih efektif dan efisien karena kedua metode pembelajaran memiliki keunggulan masing-masing. Metode pembelajaran tatap muka yang konvensional memungkinkan pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan menggunakan berbagai pendekatan dan strategi, sedangkan metode online dapat mengakses materi pembelajaran tanpa batasan ruang dan waktu.
Seperti halnya metode pembelajaran lainnya, Blended Learning juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Blended Learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional maupun online
Kelebihan Blended Learning antara lain.

  1. Memadukan pembelajaran konvensional dan online, sehingga Blended Learning bisa melengkapi kekurangan kedua metode tersebut.
  2. Penyampaian materi dapat dilaksanakan kapan saja dan di mana saja dengan memanfaatkan jaringan internet, tetapi tetap dilengkapi dengan umpan balik saat pertemuan di kelas.
  3. Guru dapat meminta siswa untuk mengkaji materi pembelajaran sebelum pembelajaran tatap muka berlangsung.
  4. Bisa digunakan untuk menyiasati kekurangan waktu mengajar dan menambah waktu pembelajaran via
  5. Memudahkan siswa untuk mengakses materi pembelajaran.
  6. Bisa digunakan untuk materi pelajaran yang banyak dan melimpah.
  7. Kegiatan diskusi bisa berlangsung offline dan
  8. Memungkinkan komunikasi dan diskusi dengan siswa yang tidak mau bertanya di kelas.

Kekurangan Blended Learning yaitu:

  1. Tidak semua guru memiliki keterampilan untuk melaksanakan pembelajaran
  2. Tidak semua siswa memiliki sarana dan prasana yang mendukung, seperti komputer, handphone, dan akses internet.

Media yang digunakan untuk melaksanakan Blended Learning sangat beragam bisa melalui web maupun media sosial yang sangat digandrungi siswa. Berikut beberapa media sosial yang bisa digunakan untuk melaksanakan metode Blended Learning.


1. Facebook

Tak bisa dipungkiri bahwa facebook merupakan salah satu media sosial yang banyak diakses oleh siswa, sehinggafacebook sangat cocok digunakan untuk menjalankan metode Blended Learning. Beberapa fitur dan sarana di facebookdapat dimanfaatkan sebagai penunjang metode Blended Learning antara lain:


1.     Facebook group
Melalui fitur facebook group, guru bisa mengumpulkan akun siswa dalam satu kelas ke dalam suatu grup yang dibuat khusus, grup kimia kelas XI IPA 1 MAN Patas misalnya. Melalui grup tersebut, guru bisa berinteraksi dan berdiskusi dengan siswa, begitu pula antarsiswa. Guru dapat mengajukan pertanyaan atau memancing diskusi mengenai materi pembelajaran yang akan atau telah diajarkan.
2.     Facebook share
Melalui fitur ini guru bisa membagikan materi singkat, gambar, link, atau video pembelajaran ke siswa sehingga siswa bisa mempelajari terlebih dahulu sebelum didiskusikan di kelas.
3.     Facebook note
Fitur ini memungkinkan guru membagikan ulasan materi yang lebih mendalam dan memungkinkan guru memberikan tugas berupa catatan. Guru atau siswa juga bisa menandai temannya, sehingga diskusi bisa lebih aktif.

2.     Whatsapp
Sama seperti halnya dengan facebook group, whatssapp group juga memungkinkan guru untuk mengumpulkan whatsapppribadi siswa. Dalam grup ini guru dan siswa bisa berdiskusi mengenai materi pembelajaran. Guru dan siswa juga bisa saling berbagi materi, foto, dan video pembelajaran. Ditambah lagi belum lama ini Whatsapp memperbarui fitur untuk platform chatting-nya, sehingga pengguna bisa mengutip dan membalas pesan (quotes and replies) secara personal dalam obrolan grup. Hal ini memungkinkan diskusi menjadi lebih efisien dan terarah. Fitur rich preview yang dimiliki oleh whatssappmemberikan kesempatan bagi guru untuk mengirimkan link situs, blog atau semacamnya tentang materi pembelajaran. Selain itu, dengan adanya pesan berbintang memungkinkan siswa menyimpan hal-hal penting tanpa harus scrool chattingdan bisa dilihat suatu waktu.


3.     Blackberry Masanger (BBM)
BBM merupakan media sosial yang sedang tren dikalangan pelajar. Fitur yang bisa digunakan antara lain BBM group. BBMgroup memiliki fungsi yang hampir sama dengan whatssapp group. Selain itu, bbm group memiliki sarana obrolan video BBM yang memungkinkan diskusi menjadi lebih interaktif.

Berdasarkan paparan di atas, Blended Learning  sangat mungkin diterapkan di sekolah seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ditunjang dengan menjamurnya aplikasi yang mendukung. Blended Learning dengan segala kelebihan dan kekurangannya bisa digunakan sebagai alternatif metode pembelajaran ketika materi yang diajarkan terlalu banyak sementara waktu yang tersedia terbatas. Selamat mencoba!



    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

Silahkan berkomentar disini, tapi yang sopan ya :)

Click to comment