Kamis, 09 November 2017

Membumikan Budaya Literasi Digital Sebagai Benteng untuk Memerangi Hoax

hoax aspartame
Pesan di atas merupakan contoh dari broadcast massages yang beberapa waktu lalu sangat populer. Bahkan dari grup-grup Whatsapp dan BBM yang saya ikuti menyebarkan pesan tersebut yang kebenarannya tentu masih dipertanyakan.

Tak bisa dipungkiri penggunaan smartphone telah menjadi tren di kalangan masyarakat. Menurut data situs antara news, 52% penduduk Indonesia telah melek internet, lebih dari 60 juta orang telah memiliki smartphone bahkan berada di urutan kelima di dunia. Namun fenomena tersebut tak lantas menjadikan penggunanya menjadi smart. Hal tersebut dibuktikan dengan begitu cepatnya penyebaran pesan berantai tanpa mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Apalagi hampir semua smartphone telah didukung dengan sosial media seperti facebook, twitter, whatsapp. Bahkan beberapa sosial media telah dilengkapi dengan fitur canggihnya seperti broadcast massages, hanya tinggal click enter langsung tersebar ke puluhan bahkan ratusan pengguna lainnya.  Dari pengamatan yang saya lakukan, ada beberapa pengguna yang bahkan tanpa membaca terlebih dahulu langsung membroadcast pesan-pesan tersebut. Begitu mudahnya pesan disebar.

Fasilitas broadcast massages bagaikan dua sisi mata uang, disamping menguntungkan karena pesan bisa langsung tersebar dan diterima oleh banyak pengguna, namun juga merugikan manakala pesan yang tersebar justru adalah pesan bohong alias hoax. Berikut ulasan penulis mengenai hoax.

A. Pengertian Hoax

Menurut Lynda Walsh dalam buku “Sins Againts Science” hoax diperkirakan muncul pertama kali pada tahun 1808 pada era industri (antaranews.com). Menurut situs Tribunjateng.com asal kata hoax diduga dari kata ‘hocus’ yang memiliki arti untuk menipu. Istilah hoax sendiri mulai naik daun di kalangan pengguna internet setelah film The Hoax beredar pada tahun 2007 yang berkisah tentang skandal pembohongan atau penipuan yang terjadi di Amerika Serikat yang diangkat dari kisah nyata.

Hoax dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai berita bohong. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online berita memiliki arti 1. cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; 2.laporan.3.pemberitahuan; pengumuman. Sedangkan bohong memiliki arti 1. tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya;dusta, 2. Bukan yang sebenarnya;palsu. Menurut Wikipedia Indonesia pemberitaan palsu (Bahasa Ingris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat-buat seolah benar adanya.

B. Cara Mengidentifikasi Hoax

Berikut merupakan cara mengidentifikasi hoax berdasarkan ciri-ciri hoax:

1. Judul bisanya menggunakan huruf kapital, huruf tebal, banyak tanda seru, serta bersifat provokatif.

Anda patut curiga bila menerima pesan yang judulnya menggunakan huruf kapital, ditebalkan serta menggunakan tanda seru secara berlebihan. Sebab judul yang demikian seolah memberi penekanan dan penguatan seolah berita itu benar adanya. Selain itu judul hoax biasanya bersifat provokatif, karena tujuan hoax sendiri adalah untuk mempengaruhi dan memprovokasi pembacanya.
contoh hoax

2. Tidak mencantumkan sumber, kalaupun mencantumkan sumber tidak terpercaya/palsu. 

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Namun dari jumlah tersebut yang terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai (www.kominfo.go.id). Jadi ketika menerima berita pastikan berita yang anda terima berasal dari situs resmi. Jika bukan berasal dari situs resmi, maka anda perlu waspada dan mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Berikut merupakan contoh berita hoax yang mencantumkan situs yang alamatnya menyerupai alamat situs terkenal. Namun setelah di cek ke alamat situs tersebut, langsung teralihkan ke situs lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan berita.
contoh hoax yang lain


Jadi ketika menerima pesan yang mencantumkan sumber, cobalah untuk menuju alamat situs dan cek apakah alamatnya benar atau tidak serta apakah sumber tersebut bisa dipercaya atau tidak. Salah satu caranya dengan mengecek pemilik atau admin di halaman ‘tentang kami’. Selain itu berhati-hatilah bila menerima pesan yang terdapat kalimat ‘copas dari grup sebelah’ dan sejenisnya, bisa jadi pesan tersebut adalah hoax. Bila terdapat kata tersebut berarti pesan tersebut tidak mempunyai sumber yang jelas. 

3. Menggunakan foto palsu 

Di zaman yang serba canggih ini, mengedit foto adalah pekerjaan yang bisa dikatakan mudah. Bahkan ada foto editan yang tidak bisa dibedakan dengan foto asli. Foto editan alias foto palsu tersebut digunakan untuk mendukung berita hoax yang disebarkan oleh pelaku sehingga pembaca benar-benar mempercayai hoax tersebut. Berikut merupakan contoh hoax yang menggunakan editan foto. Foto ini diambil dari facebook Afi Nihaya Faradisa yang beberapa waktu lalu booming karena statusnya yang mengandung plagiasi dan kontroversial. Pihak-pihak yang tidak menyukainya pun menyebarkan foto Afi dengan Kaesang yang merupakan putra dari Presiden Joko Widodo, serta menyebarkan hoax kedekatan Afi dengan Kaesang.
foto hoax


Bila anda ingin mengecek keaslian suatu foto ternyata sangat mudah. Buka google image dan klin icon kamera dan upload foto yang akan dicek atau bisa juga dicopy paste link/url yang akan dicek kebenarannya. 

4. Menyudutkan pihak-pihak tertentu 

Berita hoax memiliki isi yang tidak berimbang dan biasanya membahas sesuatu dari satu sisi saja. Tidak tanggung-tanggung, hoax menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan gamblang, bahkan tertera dengan jelas nama pihak yang disudutkan pada judul.

C. Cara Mencegah Penyebaran Hoax

Salah satu mencegah hoax agar tidak semakin parah penyebarannya adalah dengan cara melaporkannya. Media-media sosial seperti facebook dan twitter kini telah dilengkapi dengan fitur yang bisa mencegah penyebaran hoax. Berikut caranya: 

1. Adukan berita hoax ke Kemenkominfo melalui email ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id
2. Kunjungi laman TurnBackHoax untuk melaporkan hoax 
3. Untuk pengguna facebook gunakan fitur laporkan masalah yang ada di pengaturan. Jika banyak pihak yang melaporkan, maka facebook akan menghapus status tersebut.
fitur laporkan pada fb
4. Untuk pengguna instagram gunakan fitur laporkan masalah yang ada di pengaturan.
fitur laporkan masalah pada ig
5. Untuk google anda bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs yang mengandung hoax
laporkan feedback google

D. Dampak Negatif dari Hoax

Hoax mempunyai dampak negatif sebagai berikut:
  1. Meresahkan dan membuat bingung masyarakat 
  2. Merugikan pihak-pihak tertentu 
  3. Memecah belah persatuan 
  4. Menimbulkan opini yang buruk terhadap seseorang atau suatu produk 
  5. Menguntungkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab 
  6. Memprovokasi masayarakat ke arah opini negatif 

E. Tips Melawan Hoax

Berikut merupakan tips untuk melawan hoax:
  1. Jangan langsung menshare berita yang tersebar di media sosial seperti facebook dan whatsapp, baca terlebih dahulu berita secara keseluruhan, jangan sepotong-potong apalagi hanya membaca judulnya saja. Apalagi bila judulnya heboh dan provokatif. 
  2. Cek kebenaran berita, bila berita tersebut benar biasanya ada banyak situs yang memuat berita tersebut. Namun bila hanya satu situs saja yang membahas, anda patut waspada. 
  3. Cek kesesuaian gambar dengan isi berita. Waspadai gambar palsu yang sengaja dibuat untuk mendukung hoax 
  4. Kunjungi link yang tertera, cek apakah link sesuai dengan berita, situsnya resmi atau tidak, pemilik akun bisa dipercaya atau tidak. Aktifkan fitur pelacak hoax seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

F. Cara mengedukasi Siswa, Keluarga, dan Kolega serta pengalaman pribadi tentang hoax

Hoax dewasa ini telah merambah di segala bidang, mulai dari bidang pendidikan hingga bidang politik. Bahkan hoax semakin bertambah panas manakala mendekati event-event besar seperti pilkada. Tak bisa dipungkiri hoax yang langsung diterima mentah-mentah tanpa difilter dan dikroscek kebenarannya akan mempengaruhi dan menggiring penerimanya ke arah opini yang negatif. Sebagai seorang guru, saya pernah berhubungan dengan istilah hoax baik yang tersebar dari mulut ke mulut, maupun di internet. Berikut merupakan contoh hoax yang pernah saya temui dalam kehidupan saya sehari-hari: 

1. Hoax tentang pemilihan ketua OSIS 

Pertengahan Oktober lalu, tepatnya tanggal 13 Oktober, sekolah kami mengadakan pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Dari hasil pemilihan oleh siswa didapatkan data bahwa ketua OSIS adalah siswa dengan jurusan selain IPA. Berikut merupakan data nama ketua OSIS dari tahun 2013 hingga tahun 2017: 
  1. Dhimas jurusan Bahasa 
  2. Sulaimi jurusan Agama 
  3. Abdul Qadir Jaelani jurusan IPS 
  4. Nency Indrawati jurusan IPS 
  5. Syarif Hidayatullah jurusan IPS
Saya pun melakukan wawancara terhadap beberapa siswa yang merupakan ‘pentolan’ di jurusannya. Dari hasil wawancara, para pentolan tersebut yang merupakan siswa selain jurusan IPA sengaja bergabung dan menyatukan suara untuk memilih ketua OSIS dari selain IPA. Tentu saja bila 3 jurusan sekaligus bergabung pasti akan memenangkan pemilihan. Saya pun menanyakan mengapa mereka seperti itu. Ternyata didapatkan informasi bahwa guru pasti akan memilih ketua OSIS dari anak IPA. Informasi inipun tersebar dari tahun ke tahun. Ternyata informasi tersebut adalah hoax belaka, sebab saya merekap data suara guru untuk pemilihan ketua OSIS kemarin. Hasilnya sebagai berikut:
Donita / jurusan IPA : 8 suara
Tiddad / jurusan IPA : 8 suara
Syarif / jurusan IPS : 34 suara (hasil akhir tertera di papan)
pemilihan ketua osis man buleleng


Dari data tersebut dan hasil wawancara dengan beberapa guru menunjukkan bahwa guru bersikap profesional. Guru memilih ketua OSIS bukan berdasarkan jurusan, tapi berdasarkan kemampuan dan kinerja dari calon ketua OSIS tersebut. 

Lalu bagaimana cara saya mengedukasi siswa agar tidak termakan hoax? Saya berusaha meluruskan informasi hoax tersebut kepada siswa-siswi, terutama kepada siswa-siswi yang berpengaruh di masing-masing jurusan sehingga hoax tersebut bisa dihentikan penyebarannya. Selain itu, saya pun mengajak siswa-siswi untuk senantiasa membudayakan sikap tabayyun dalam menghadapi informasi baru yang belum jelas kebenarannya. Yang tak kalah penting adalah mengedukasi siswa tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial, mengingat bawa hampir seluruh siswa memili media sosial, serta mengajak siswa untuk bijak dalam menggunakan internet. 

2. Hoax tentang registrasi SIM Card 

Pemerintah tengah menyuruh masyarakat untuk meregistrasi SIM Card baik bagi pengguna baru kartu perdana maupun lama mulai dati 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018. Tentu himbauan ini bukan tanpa tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk melindungi konsumen. Penetapan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi. Namun belakangan beredar hoax untuk tidak melakukan registrasi.
hoax tentang registrasi sim card


Staf ahli Kominfo melalui situs resmi Kominfo memperkirakan 41% orang telah terpengaruh berita tersebut yang merupakan hoax belaka. Menurut Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), Zudan Arif Fakrullah, Kominfo dan operator bekerja sama untuk menjaga kerahasiaan data KTP dan KK. Berdasarkan hal tersebut maka tidak ada hubungan antara registrasi dengan pilpres 2019, kejahatan keuangan ATM, pembobolan uang pribadi hingga pemalsuan dan penggandaan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Zudan menambahkan bagi anak yang belum punya KTP tetap bisa melakukan registrasi menggunakan NIK yang terdapat dalam KK. 

3. Hoax tentang vaksin MR menyebabkan autis 

Virus rubella merupakan virus yang mengerikan bila menginfeksi ibu hamil, sebab bayi yang dilahirkan bisa mengalami kecacatan seperti tuli, katarak, hingga keterlambatan perkembangan. Sehingga pemerintah memberikan imunisasi MR tambahan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk memberantas dan mewujudkan Indonesia bebas rubella. Namun beredar hoax bahwa vaksin MR menyebabkan autisme. Namun berita tersebut telah dibantah oleh pemerintah. 

4. Hoax tentang aspartam 

Beberapa waktu yang lalu heboh beredar pesan tentang bahaya aspartam di grup whatsapp. Berita yang tersebar sebagai berikut:
hoax tentang aspartame
Berita di atas ternyata hoax belaka. IDI alias Ikatan Dokter Indonesia beserta BPOM telah membantah kebenaran berita tersebut. Melalui situs resminya, IDI dan BPOM mengeluarkan pernyatan sebagai berikut:
penjelasan bpom tentang aspartame


Cara mengedukasi keluarga dan kolega antara lain mengajak untuk mencari kebenaran suatu berita bersama-sama tentunya di saat-saat santai, seperti saat jam istirahat, sehingga tidak terkesan menggurui. Selain itu bisa juga berdiskusi santai mengenai suatu topik yang lagi hangat dengan mencari sumber-sumber yang terpercaya. 

G. Membumikan budaya literasi untuk memerangi hoax 

Literasi digital secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi dan informasi serta perangkat digital. Jadi literasi digital tidak hanya terbatas apakah seseorang bisa menggunakan perangkat digital, namun juga sikap memilih dan memilah serta menganalisis secara kritis arus informasi digital yang diterimanya. Mengapa literasi digital penting untuk melawan hoax? Seperti yang telah dijelaskan dalam pengantar, pengguna smartphone tidak se-smart telepon yang dimlikinya. Akibatnya hoax tumbuh bagaikan jamur di musim penghujan. Tanpa adanya literasi digital maka pengguna perangkat digital akan mudah terpengaruh hoax. Literasi digital sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran hoax. Sehingga dengan adanya litearsi digital pengguna akan lebih kritis dalam menghadapi hoax dan tidak mudah terporvokasi, tidak hanya itu pengguna pun dapat bergerak aktif untuk menciptakan konten-konten positif yang bermanfaat yang dapat menandingi konten negatif dari hoax. Maka dengan membumikan literasi digital diharapkan dapat melawan penyebaran hoax. 

H. Kesimpulan 

Hoax adalah berita bohong yang dibuat seolah-olah benar adanya dan sengaja direncanakan oleh penyebarnya dengan tujuan memprovokasi dan memberikan pemahaman yang salah sehingga bisa menggiring pembacanya ke arah opini negatif. Beberapa ciri hoax antara lain judul menggunakan huruf kapital dan provokatif, tidak mencantumkan sumber, menggunakan foto palsu serta menyudutkan pihak tertentu. Hoax memiliki dampak negatif yang mengerikan salah satunya adalah dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu cara memerangi hoax adalah melalui budaya literasi digital. Sehingga dengan adanya literasi digital penyebaran hoax bisa dicegah dan memunculkan konten-konten positif yang bisa menandingi hoax.

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar disini, tapi yang sopan ya :)